Surabaya – DPW LDII Jawa Timur bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur menggelar pelatihan jurnalistik bertema penguatan literasi media di Gedung Serbaguna (GSG) Sabilurrosyidin, Surabaya, Sabtu (7/2). Kegiatan ini diikuti lebih dari 150 peserta dari perwakilan DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Pelatihan tersebut bertujuan membekali peserta dengan kompetensi jurnalistik guna menangkal disinformasi di era digital. Para peserta mendapatkan materi seputar dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan berita, serta dokumentasi foto dan video untuk kebutuhan publikasi, baik media internal maupun eksternal.
Wakil Ketua DPW LDII Jawa Timur, Agung Riyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang komunikasi dan media. Menurutnya, kemampuan jurnalistik yang mumpuni menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi saat ini.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin meng-upgrade kemampuan teman-teman bidang Komunikasi Informasi dan Media (KIM) LDII, mulai dari dokumentasi, publikasi, hingga penulisan berita, baik untuk media internal maupun eksternal,” ujar Agung.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan di masing-masing daerah. Dengan demikian, anggota KIM LDII di tingkat kabupaten/kota mampu menjadi ujung tombak penyampai informasi yang akurat, berimbang, dan mudah dipahami masyarakat.
“Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, peserta sudah mampu membuat pemberitaan sesuai kaidah jurnalistik, serta mengambil foto dan video yang bisa menceritakan sebuah kegiatan secara utuh,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, K.H. Amrodji Konawi, menilai tema pelatihan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Ia menegaskan bahwa tugas jurnalis tidak sekadar menulis, tetapi juga mengamati dan menyampaikan fakta secara benar kepada publik.
“Seorang jurnalis bertugas melihat, mengamati, menulis, dan menyampaikan apa yang dilihat kepada masyarakat. Ini tugas yang mulia karena menjadi bagian dari syiar,” ungkapnya.
Amrodji juga menekankan pentingnya membentuk jurnalis yang berintegritas atau “green jurnalis”, yakni jurnalis yang menyampaikan informasi apa adanya tanpa memelintir fakta melalui framing yang tidak tepat.
“Saat ini sering terjadi pembelokan fakta, sehingga sesuatu yang salah bisa terlihat benar. Jurnalis LDII tidak boleh seperti itu. Harus menyampaikan informasi secara jujur dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mengingatkan bahwa tantangan hoaks ke depan diprediksi semakin meningkat. Memasuki tahun 2026, penyebaran hoaks diperkirakan akan mengalami eskalasi secara masif, termasuk yang berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, peran masyarakat sebagai produsen konten positif sangat penting untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Media sosial kini menjadi pintu gerbang utama masyarakat dalam mencari sekaligus menyampaikan informasi.
“Media sosial saat ini menjadi pintu gerbang paling mudah bagi masyarakat untuk mencari sekaligus menyampaikan informasi. Maka kepekaan terhadap kebenaran informasi harus dimiliki, terutama oleh teman-teman KIM LDII,” ujarnya.
Ia menekankan, prinsip jurnalistik harus menjadi pegangan utama dalam bermedia. Tidak hanya memahami unsur 5W+1H, tetapi juga memastikan informasi yang disampaikan telah terverifikasi. Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan adalah membangun jejaring seluas mungkin, termasuk menjalin komunikasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) di tingkat kabupaten dan kota.
“Tujuannya agar setiap informasi bisa dikonfirmasi kebenarannya, sehingga apa yang ditulis benar, akurat, dan berimbang,” jelasnya.