BeritaJawa Timur

LDII Perkuat Literasi Digital Generasi Muda Lewat Pelatihan Jurnalistik di Jawa Timur

SURABAYA — Media sosial yang awalnya menjadi ruang silaturahim kini dinilai berpotensi memicu konflik dan disinformasi. Menyikapi hal tersebut, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) memperkuat literasi digital, khususnya di kalangan generasi muda, melalui pelatihan jurnalistik di Jawa Timur.

Komitmen ini mengemuka dalam dialog literasi digital yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur, Selasa (3/2). Dialog berformat podcast tersebut menghadirkan Departemen Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM) DPP LDII bersama Biro KIM DPW LDII Jawa Timur.

Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana, mengungkapkan bahwa perhatian LDII terhadap literasi digital telah dimulai sejak awal perkembangan media sosial. Pada 2007, LDII bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital melalui program Gerakan Internet Sehat (GIS).

“Awalnya media sosial seperti Facebook digunakan untuk silaturahmi. Namun dinamika politik global dan nasional menunjukkan bahwa media sosial juga bisa menjadi sarana kampanye hitam dan pembentukan opini yang menyesatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejumlah peristiwa seperti Pemilu Amerika Serikat 2008 dan Pilkada DKI Jakarta 2012 menjadi pelajaran penting tentang besarnya pengaruh media sosial terhadap ruang publik. Sejak saat itu, LDII mulai membangun kanal komunikasi resmi organisasi.

Upaya tersebut diperkuat dengan pendirian LDII News Network pada 10 November 2013 sebagai kantor berita resmi DPP LDII. Saat ini, jaringan tersebut mampu memproduksi lebih dari 300 berita setiap bulan, ratusan konten media sosial, serta membentuk koordinator wilayah hingga tingkat kabupaten/kota.

“Pelatihan jurnalistik menjadi bagian penting, bukan hanya untuk penguatan pemberitaan, tetapi juga sebagai sarana kaderisasi,” kata Ludhy.

Sementara itu, Ketua Biro KIM LDII Jawa Timur, Sofyan Gani, menegaskan bahwa pelatihan jurnalistik merupakan agenda rutin tahunan untuk meningkatkan kualitas informasi di daerah. Ia menekankan, literasi digital tidak hanya soal kemampuan menulis, tetapi juga pemahaman menyeluruh dalam menggunakan media sosial secara bijak.

“Warga kami perlu memahami media sosial secara utuh agar tidak asal membagikan atau memproduksi konten hanya demi viral,” ujarnya.

Sejak 2024, LDII Jawa Timur juga telah menjalin kerja sama dengan Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur dalam penguatan literasi digital. Kerja sama ini bertujuan membiasakan warga untuk memeriksa dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

Pelatihan jurnalistik LDII Jawa Timur dijadwalkan berlangsung pada 7 Februari 2026, dengan melibatkan sekitar 200 peserta dari seluruh kabupaten/kota. Setiap DPD LDII mengirimkan empat perwakilan, mayoritas dari kalangan generasi muda yang aktif di media sosial.

“Mereka diharapkan menjadi penggerak publikasi LDII di daerah sekaligus agen literasi digital di lingkungannya,” kata Sofyan.

Melalui pelatihan ini, LDII berharap media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kerukunan dan kehidupan beragama, bukan sebaliknya menjadi sumber perpecahan. “Literasi digital bukan hanya soal memahami informasi, tetapi juga memproduksi konten yang berdampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *